Campur Tangan Mertua dan Keluarga Besar: Cara Menyikapinya
Saran, kritik, hingga keputusan yang diambil alih oleh mertua atau keluarga besar dapat menimbulkan jarak antara suami dan istri. Berikut cara menyikapinya tanpa merusak hubungan.

Keluarga besar bisa menjadi sumber dukungan, tetapi bisa juga menjadi sumber ketegangan ketika masukan berubah menjadi campur tangan: mengomentari pengasuhan anak, mempertanyakan keuangan, menentukan tempat tinggal, atau membandingkan menantu dengan orang lain. Persoalan keluarga besar termasuk yang paling sering dikeluhkan dalam masalah rumah tangga. Artikel ini memusatkan pembahasan pada satu hal: bagaimana menyikapinya sebagai pasangan.
Bentuk Campur Tangan yang Sering Terjadi
- Komentar atau kritik terhadap cara mengasuh anak, mengatur rumah, atau memasak.
- Mengambil keputusan atas nama pasangan, misalnya soal acara keluarga, tempat tinggal, atau pendidikan anak.
- Meminta bantuan keuangan secara berulang tanpa mempertimbangkan kondisi rumah tangga.
- Datang atau menginap tanpa pemberitahuan.
- Membandingkan menantu dengan menantu lain atau dengan anak sendiri.
- Menjadi tempat salah satu pihak mengadu, sehingga konflik pasangan diketahui banyak orang.
Prinsip Dasar Menyikapinya
1. Pasangan dulu satu suara
Sebelum menghadapi keluarga, suami dan istri perlu saling mendengar dan menyepakati sikap bersama. Bila salah satu merasa tidak dibela, ia akan merasa sendirian menghadapi dua pihak. Dengarkan perasaan pasangan tanpa langsung membela orang tua sendiri.
2. Orang tua dihubungi oleh anaknya sendiri
Umumnya lebih efektif bila masing-masing menyampaikan batasan kepada orang tuanya sendiri. Suami berbicara kepada ibu dan ayahnya, istri kepada orang tuanya. Pesan dari anak kandung biasanya diterima lebih lembut daripada dari menantu, dan menghindarkan salah paham yang memperburuk hubungan.
3. Bedakan masukan dari perintah
Tidak semua saran adalah campur tangan. Orang tua yang berpengalaman dapat membantu bila saran mereka didengar dengan hormat. Tetapi keputusan akhir untuk urusan rumah tangga inti tetap dibicarakan dan dipegang oleh suami dan istri. Anda bisa berkata, "Terima kasih sarannya, Bu. Kami akan pertimbangkan dan putuskan berdua."
4. Tetapkan batasan yang jelas dan sopan
Batasan bukan berarti memutus hubungan. Contoh:
- "Kalau mau datang, kabari dulu ya, Bu, supaya kami bisa menyambut dengan baik."
- "Soal pendidikan anak, kami sudah sepakat, Pak. Kami senang kalau Bapak mendoakan."
- "Untuk bantuan keuangan, kami perlu membahasnya berdua dulu."
Sampaikan dengan nada hormat dan konsisten. Batasan yang berubah-ubah mudah dilanggar.
5. Jaga adab tanpa menyerahkan keputusan
Dalam pendekatan nilai-nilai Islam, menghormati orang tua dan menjaga silaturahmi dipandang penting. Namun menghormati tidak harus berarti mengikuti setiap permintaan. Sikap sopan, sabar, dan tetap teguh pada kesepakatan keluarga inti dapat berjalan bersamaan.
Yang Sebaiknya Dihindari
- Menjelek-jelekkan keluarga pasangan di hadapannya atau di depan anak.
- Menyuruh pasangan "memilih" antara Anda dan orang tuanya.
- Membiarkan pasangan menanggung semua tekanan sendirian sambil berharap masalah hilang sendiri.
- Menceritakan pertengkaran suami istri kepada banyak anggota keluarga.
Bila Tinggal Serumah dengan Orang Tua atau Mertua
Ketegangan biasanya lebih sering muncul ketika ruang bersama terbatas. Sepakati pembagian tugas, jam istirahat, penggunaan dapur dan ruang, serta cara menyampaikan keberatan. Bila memungkinkan, diskusikan rencana tinggal terpisah sebagai target bersama dan bukan sebagai penolakan. Untuk cara menyampaikan keberatan kepada pasangan tentang keluarganya agar tidak berubah menjadi tuduhan, lihat cara menyampaikan keluhan kepada pasangan.
Penutup
Campur tangan keluarga besar jarang selesai dalam satu percakapan, dan tidak ada cara yang menjamin semua pihak puas. Namun pasangan yang kompak, menyampaikan batasan dengan hormat melalui orang tua masing-masing, dan konsisten menjaga keputusan rumah tangga biasanya lebih mampu menjaga hubungan dengan keluarga besar tanpa mengorbankan hubungan sebagai suami istri.
Ingin Membicarakan Situasi Anda?
Artikel ini hanya memberi gambaran umum. Bila Anda ingin membicarakan keadaan pribadi Anda, kami siap mendengarkan secara privat.
Mulai KonsultasiBisa via chat, voice call, atau video call WhatsApp, Zoom, dan Google Meet. Pilih yang paling nyaman bagi Anda.
Cerita Anda dijaga kerahasiaannya.
Layanan yang relevan: konsultasi pernikahan dan rumah tangga umum, konsultasi masalah, konflik dan pertikaian dalam rumah tangga dan pernikahan, konsultasi pra nikah, konsultasi perselingkuhan, konsultasi hubungan seksual intim suami istri, konsultasi perceraian, konsultasi pasca perceraian janda dan duda, konsultasi kdrt kekerasan dalam rumah tangga, konsultasi mediasi suami istri.
Layanan konsultasi ini bersifat pendampingan dan tidak menggantikan layanan psikolog, psikiater, maupun penasihat hukum. Kami tidak menjanjikan hasil tertentu.


